Ira Wibowo: Berkah Wajah Memelas
Aktris Ira Wibowo tak habis pikir mengapa ia hampir selalu mendapat peran sebagai perempuan yang tertindas. Asal tahu saja, setelah menjadi perempuan pembantu dalam sinetron seri Kisah Sedih di Hari Minggu, ia kini main sebagai perempuan yang tertindas. "Saya jadi buruh cuci," kata Ira menerangkan peran yang dimainkannya dalam sinetron seri terbarunya, Jangan Panggil Aku Ibu (TPI), arahan sutradara Iyon Priyoko. "Saya sendiri enggak tahu mengapa peran-peran seperti ini yang dipercayakan kepada saya. Atau, mungkin, karena wajah saya memelas," ucapnya di Planet Hollywood Jakarta, Selasa (9/5). Tapi, sebagai seorang aktris, ia tetap harus bersikap profesional. Peran apapun itu, katanya, harus tetap dilakoninya dengan penuh tanggung jawab. Ia sendiri melihat peran-peran tersebut sebagai tantangan. "Justru di sinilah tantangannya, bagaimana saya bisa membuat berbeda peran-peran yang hampir sama satu sama lainnya," tutur istri artis musik Katon Bagaskara ini. Menyelami sosok buruh cuci, ungkap Ira, bukanlah perkara yang sulit. "Saya ini datang dari keluarga yang sederhana kok, jadi sudah biasa. Malah, kalau Lebaran tiba, ya saya harus menggantikan peran bedinde (pembantu)," ceritanya. Dalam sinetron seri Jangan Panggil Aku Ibu, Ira main sebagai Murni, seorang buruh cuci dengan dua anak. Hidup dalam segala keterbatasan telah membuatnya tertekan, terlebih ketika suaminya doyan mabuk dan berjudi. Amarahnya memuncak. Ia membakar rumah kontrakannya agar suaminya turut terbakar. Tapi, ia lupa bahwa kedua anaknya justru tengah tidur nyenyak. Atas perbuatannya tersebut, ia harus meringkuk di balik jeruji besi. "Kalau ada yang bilang saya lebih suka menerima peran-peran seperti ini, enggak juga. Dalam film layar lebar saya yang baru nanti, saya malah memerani seorang ibu yang antagonis," kilahnya. Ira belum mau membeberkan lebih lanjut film itu. "Tunggu saja nanti," ujarnya berahasia. - Sumber : Kompas Cyber Media Penulis: Eh 29 May 2006
News Index
|